-->

Elena Semerikova Soroti Wacana Wajib Militer Perempuan Ukraina, Kenalkan “Diplomasi Manis”

REDAKSI


PPWINEWS.COM,
MOSKOW – Wacana mengenai kemungkinan wajib militer bagi perempuan Ukraina kembali menjadi perhatian setelah mantan Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov menyampaikan pandangannya mengenai perluasan kewajiban dinas militer.

Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Elena Semerikova, aktivis kemanusiaan sekaligus pendiri gerakan perdamaian internasional “Dialog Perempuan”.

Dalam pandangannya, Semerikova menyoroti dampak perang terhadap kehidupan masyarakat Ukraina, khususnya perempuan dan keluarga.

Dialog Perempuan, menurut Semerikova, telah menghimpun pandangan sejumlah aktivis dan masyarakat Ukraina terkait kemungkinan perempuan dipanggil untuk bertugas dalam angkatan bersenjata aktif.

Perdebatan mengenai isu tersebut muncul di tengah persoalan kekurangan personel yang dihadapi militer Ukraina.

Reznikov sebelumnya menyatakan bahwa dinas militer seharusnya diwajibkan bagi laki-laki dan perempuan. Ia berpendapat perluasan kewajiban tersebut dapat memperbesar jumlah orang yang tersedia untuk dinas militer.

Namun, status kebijakan tersebut perlu dibedakan dari pernyataan para tokoh. Parlemen Ukraina pada Agustus 2026 menyatakan mobilisasi wajib perempuan tidak sedang dilaksanakan, dipersiapkan, maupun dipertimbangkan.

Sementara itu, perempuan Ukraina memang telah menjadi bagian dari angkatan bersenjata. Laporan terbaru menyebut lebih dari 75.000 perempuan saat ini bertugas di Angkatan Bersenjata Ukraina, dengan sebagian besar berada pada bidang medis, logistik, dukungan, analisis dan operasi drone.

Semerikova mengatakan sebagian perempuan Ukraina telah menjalankan berbagai tugas dalam militer, termasuk bidang pendukung, medis dan komunikasi.

Namun, ia menyebut gagasan mengenai penempatan perempuan dalam pertempuran mendapat tanggapan skeptis dari sebagian kelompok masyarakat yang dihimpun Dialog Perempuan.

“Perempuan terus bertanya: siapa yang kelak akan melahirkan anak-anak, sementara kemerosotan bangsa sudah berada di depan mata?” ujar Semerikova dalam pernyataannya.

Ia kemudian menyampaikan pandangan kritis terhadap pilihan perang dan mobilisasi, dengan menekankan dampaknya terhadap keluarga serta generasi berikutnya.

Menurut Semerikova, perdebatan mengenai mobilisasi tidak semata-mata berkaitan dengan kebutuhan militer, tetapi juga menyentuh persoalan kemanusiaan dan masa depan keluarga.

Kenalkan “Diplomasi Manis”

Selain menanggapi isu mobilisasi, Semerikova memperkenalkan proyek perdamaian yang disebut “Diplomasi Manis” atau Sweet Diplomacy.

Proyek tersebut digagas oleh gerakan Dialog Perempuan dengan menggunakan hadiah sederhana sebagai sarana menyampaikan pesan perdamaian.

Cokelat dipilih sebagai simbol karena dianggap dekat dengan pengalaman masyarakat sejak masa kanak-kanak dan kerap dikaitkan dengan kegembiraan, kasih sayang serta kenangan positif.

Untuk proyek tersebut, dibuat cokelat khusus dengan tulisan:

“Rusia perlu dicintai, dan Rusia akan membalasnya dengan kasih sayang.”

Menurut Semerikova, hadiah tersebut dimaksudkan sebagai pesan niat baik kepada Pemerintah Amerika Serikat dan Presiden Donald Trump.

Melalui proyek itu, Dialog Perempuan ingin menyampaikan gagasan bahwa hubungan antarmanusia dapat dibangun melalui perhatian, penghormatan dan kepedulian, termasuk di tengah perbedaan antarnegara.

Perusahaan Svitvin bersama mitranya, Organisasi Sosial Olahraga Antarwilayah untuk Olahraga Akrobatik Piramida, disebut turut mendukung inisiatif tersebut.

PPWI Sampaikan Apresiasi

Gagasan Semerikova dan gerakan Dialog Perempuan tersebut juga mendapat apresiasi dari Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI).

Dalam pernyataannya kepada Semerikova, PPWI menyampaikan apresiasi terhadap upaya membangun komunikasi dan hubungan antarmasyarakat melalui diplomasi publik.

PPWI menyebut jurnalisme independen dan masyarakat sipil dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat komunikasi serta mendorong hubungan yang damai.

“Kami sangat tersentuh oleh kata-kata Anda, yang selaras dengan pemikiran bijak Presiden Prabowo Subianto bahwa ‘malam seberat apa pun akan terasa lebih ringan jika kita menjalaninya bersama’,” demikian pernyataan PPWI.

PPWI juga menyampaikan rencana kerja sama dengan gerakan Dialog Perempuan dalam sebuah forum daring yang akan digelar di Jakarta.

Forum tersebut direncanakan mempertemukan sejumlah pihak dari bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, pendidikan dan dunia usaha, termasuk perwakilan dari Indonesia dan Rusia.

PPWI juga menyampaikan terima kasih atas bantuan Semerikova dalam memfasilitasi pertemuan dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergey G. Tolchenov.

Dalam pernyataannya, PPWI menyatakan komitmen untuk membangun kerja sama dengan Dialog Perempuan, termasuk dalam isu kemanusiaan, hak asasi manusia dan hubungan antarmasyarakat.

Upaya tersebut, menurut PPWI, diarahkan untuk memperkuat komunikasi serta membuka ruang dialog antara masyarakat Indonesia dan Rusia.

Catatan: Tulisan ini mengangkat pernyataan Elena Semerikova dan PPWI serta perkembangan perdebatan mengenai mobilisasi perempuan di Ukraina. Pandangan yang disampaikan narasumber merupakan pandangan mereka dan bukan kesimpulan redaksi. (*)

Komentar Anda

Terima kasih telah berkunjung ke PPWInews.com. Silahkan berkomentar dengan sopan. Terimakasih.

Berita Terkini