Jakarta – Aktivis dan pengamat kebijakan publik Wilson Lalengke menilai prediksi bahwa polemik dugaan ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) baru akan tuntas pada 2036 harus menjadi peringatan bagi Presiden Prabowo Subianto.
Prediksi itu sebelumnya disampaikan pakar komunikasi Effendi Gazali, yang mengaku mendapat pernyataan tersebut dari mantan Menko Polhukam Mahfud MD dalam sebuah percakapan. Effendi menyebut Mahfud memperkirakan penyelesaian polemik itu tidak akan cepat dan bisa berlarut hingga lebih dari satu dekade.
“Kalau benar baru selesai 2036, artinya Prabowo dianggap tidak akan mampu menuntaskan dalam masa jabatannya. Ini harus menjadi perhatian,” kata Wilson, Minggu (4/1/2026).
Wilson menilai Effendi Gazali bukan sekadar akademisi, tetapi juga sosok yang kerap membangun isu di ruang publik. Karena itu, ia mengingatkan agar Presiden Prabowo berhati-hati dalam menyikapi pernyataan tersebut.
“Effendi itu juga issue maker. Isu bisa saja muncul karena ada kepentingan tertentu. Presiden harus sangat hati-hati agar tidak terjebak dalam permainan isu,” ujarnya.
Menurut Wilson, lamanya penyelesaian kasus-kasus besar di Indonesia tidak hanya dipengaruhi faktor hukum, tetapi juga dinamika politik. Ia menilai keterbatasan masa jabatan presiden membuat tidak semua persoalan besar bisa diselesaikan dalam satu periode kepemimpinan.
“Konstitusi membatasi masa jabatan presiden. Kalau memang baru selesai 2036, berarti penyelesaiannya akan ada di tangan pemimpin berikutnya,” ucapnya.
Wilson juga mengimbau masyarakat agar bersikap realistis dan tetap kritis terhadap isu-isu besar yang berkembang. Ia meminta publik tidak menaruh ekspektasi berlebihan terhadap pemerintah saat ini dalam penyelesaian polemik tersebut.
“Rakyat harus tetap kritis dan tidak berharap terlalu banyak. Yang penting adalah mengawal agar isu-isu yang menyangkut integritas pejabat publik tetap mendapat perhatian,” pungkasnya.(Tim/Red)

Terima kasih telah berkunjung ke PPWInews.com. Silahkan berkomentar dengan sopan. Terimakasih.