-->

Giatkan Olah Raga Alam Guna Tingkatkan Sistem Kekebalan

REDAKSI author photo

BANDUNG - Meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menjaga kebugaran dan stamina menjadi sangat penting, terutama di saat pandemi yang sedang melanda dunia saat ini. Namun tentu juga harus bisa memilih cara dan lokasi yang tepat untuk itu, dan tetap harus mematuhi protokol kesehatan. 

"Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah Tea Walk, yaitu kegiatan perjalanan atau berjalan-jalan menyusuri kebun teh yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Cukup dilakukan satu keluarga saja, artinya tidak perlu melibatkan banyak orang karena situasinya masih pandemi," kata Ketua Umum DPP Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Bandung. 

Lebih lanjut dia juga menjelaskan bahwa dengan kegiatan berjalan ringan sekitar 3 – 5 km di kebun teh, di samping berolah raga sederhana juga bisa menikmati panorama pegunungan dengan hamparan permadani hijau kebun teh yang indah, udara bersih dan sejuk serta keindahan yang tiada tara. 

Di samping juga tentu bisa membantu merelaksasi fikiran dari kepenatan kerja dan polusi udara kota. 

"Kalau soal berfoto ria tentu tak boleh terlupakan, karena dokumentasi bisa menjadi sebuah kenangan indah dalam perjalanan hidup yang pernah dilalui dalam kebersamaan," ujarnya.

Apabila dalam kondisi normal, sambungnya, kegiatan semacam ini akan lebih asyik jika dilakukan oleh banyak orang dengan teman – teman atau komunitas tertentu. Berbagai kegiatan menarik yang biasanya dilakukan dalam rangkaian kegiatan Tea Walk seperti Treasure Hunt, Amazing Race, Fun Games, Team Building, dan lain – lain. 

"Apalagi di Jawa Barat ini ada banyak pilihan lokasi perkebunan Teh. Namun dalam situasi seperti saat ini, kita sendiri harus bijak agar tidak terjadi penularan virus atau terbentuknya cluster baru," ungkap Dede.

Tea walk ini merupakan salah satu jenis olah raga di alam bebas yang bisa dilakukan sambil menikmati keindahan panorama alam. Pada saat berolah raga, tubuh menggunakan lebih banyak oksigen dan menghasilkan lebih banyak karbon dioksida karena otot-otot bekerja lebih keras. 

Untuk mengatasi kebutuhan ekstra ini, tubuh merespon dengan bernapas lebih dalam dan lebih sering untuk mengambil oksigen yang dibutuhkan. Kecepatan pernapasan yang meningkat juga memfasilitasi pengantaran oksigen ke dalam aliran darah, yang kemudian diangkut ke otot-otot yang bekerja. 

Dengan demikian hal ini merupakan salah satu ikhtiar alami dalam meningkatkan saturasi oksigen.

Kemudian Dede juga menjelaskan bahwa saturasi oksigen merupakan nilai yang menunjukkan kadar oksigen di dalam darah. Nilai ini sangat berpengaruh terhadap berbagai fungsi organ dan jaringan tubuh. 

Pengukuran nilai saturasi oksigen dapat dilakukan dengan 2 cara, yakni dengan analisis gas darah (AGD) atau menggunakan alat oximeter. 

Analisis gas darah adalah metode pengukuran saturasi oksigen yang dilakukan dengan cara mengambil sampel darah dari pembuluh darah arteri. 

Hasil analisis gas darah sangat akurat, karena pengukurannya dilakukan di rumah sakit dan dikerjakan oleh tenaga medis profesional.

Sedangkan, oximeter adalah alat pengukur saturasi oksigen yang berbentuk klip. Pengukurannya dilakukan dengan cara menjepitkan oximeter pada jari tangan. 

Saturasi oksigen kemudian akan diukur berdasarkan jumlah cahaya yang dipantulkan oleh sinar inframerah, yang dikirim ke pembuluh darah kapiler. 

Hal ini  sambungnya  tentu berbeda dengan analisis gas darah, karena pengukuran saturasi oksigen dengan oximeter bisa dilakukan sendiri dengan mudah di rumah sehingga bisa mengukur nilai saturasi oksigen secara berkala.

Hasil pengukuran saturasi oksigen yang dilakukan dengan analisis gas darah ditunjukkan dengan istilah PaO2 (tekanan parsial oksigen).

Sementara itu, hasil pengukuran saturasi oksigen dengan menggunakan oximeter ditunjukkan dengan istilah SpO2. 

Adapun nilai saturasi oksigen normal pada orang dengan kondisi paru-paru yang sehat atau tidak memiliki kondisi medis tertentu, adalah :
Analisis gas darah (PaO2) : 80–100 mmHg
Oximeter (SpO2) : 95–100%
Sedangkan pada orang yang memang memiliki penyakit paru-paru, nilai saturasi oksigen normalnya bisa berbeda tergantung pada kondisi dan penyakit yang dideritanya, misalnya pada nilai SpO2 88–92%.

Kemudian untuk nilai saturasi oksigen rendah atau di bawah normal, adalah :
Analisis gas darah (PaO2) : di bawah 80 mmHg
Oximeter (SpO2) : di bawah 94%
Orang yang memiliki saturasi oksigen rendah atau hipoksemia bisa merasakan berbagai gejala, seperti nyeri dada, sesak napas, batuk, sakit kepala, detak jantung cepat, dan kulit membiru. 

Namun terkadang orang yang mengalami hipoksemia tidak merasakan gejala apa pun. Kondisi ini yang disebut dengan happy hypoxia. 

Hipoksemia, baik yang menimbulkan gejala maupun tidak, bisa menganggu kerja organ dan jaringan tubuh. Bila dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ vital, seperti jantung, otak, dan ginjal, dan berisiko menyebabkan komplikasi yang berbahaya.

Pada orang yang sehat, kadar saturasi oksigennya terkadang bisa tinggi. Namun, umumnya kondisi saturasi oksigen tinggi lebih sering ditemukan pada orang yang mendapat terapi oksigen, baik dengan selang atau masker oksigen maupun pada pasien yang mendapatkan bantuan pernapasan lewat mesin ventilator. 

Untuk mendeteksi saturasi oksigen yang terlalu tinggi, ini hanya bisa dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan analisis gas darah, yakni dengan hasil PaO2 di atas 120mmHg.

"Dengan demikian, olah raga yang teratur tentu perlu dilakukan agar badan tetap sehat dan sistem imun tubuh juga terus meningkat. Namun, sekali lagi karena saat ini situasinya masih pandemi, maka memilih lokasi dan jenis olah raganya harus tepat," jelasnya. (RED)
Komentar Anda

Terima kasih telah berkunjung ke PPWInews.com. Silahkan berkomentar dengan sopan. Terimakasih.


Berita Terkini