-->

Membaca Bakat Seseorang Dengan Analisa Sidik Jari

REDAKSI author photo

MST - Setiap orang biasanya memiliki cita-cita, terlepas cita-cita tersebut ditulisnya ataupun tidak. 

Dalam konteks ini ada sebuah penekenan bahwa kalau ditulis, maka pencapaian cita-cita tersebut bisa dengan mudah untuk dikur berhasil atau tidaknya. 

Tetapi kalau tidak ditulis biasanya tanggung jawab dalam pencapaian cita-cita tersebut tidak terlalu diindahkan. 

Artinya kalau tercapai ya syukur, kalau tidak juga ya sudahlah, bahkan dalam konteks yang lebih ekstrim sesuai dengan perjalanan waktu kadang-kadang ia melupakan apa yang menjadi cita-citanya sendiri.

Oleh karena itu setiap orang yang memiliki cita-cita, maka sebaiknya cita-citanya tersebut ditulis sebagai kontrol terhadap orientasi pencapaiannya.  

Namun demikian ada hal yang jarang dijelaskan bahwa dalam membuat cita-cita, sebaiknya harus disesuaikan dengan bakatnya agar setiap tahapan proses yang ia jalani bisa ia nikmati sebagai harmoni perjuangan.

Dengan demikian kemampuan untuk mengetahui, mengukur atau membaca bakat apa yang dimiliki menjadi penting sekali.

Pertanyaannya tentu instrumen apa yang bisa dipakai untuk mengukurnya secara efektif ? 

Kemudian bagaimana cara penggunaan alat ukur tersebut guna mendapatkan hasil yang akuntabel, valid dan akurat. 

Sebab boleh jadi ada beberapa macam alat ukur, tetapi belum tentu diketahui oleh masing-masing orang apalagi ketiga bicara tentang cara penggunaannya. 

Oleh karenanya dipandang perlu untuk sedikit menjelaskan salah satu instrumen yang bisa dipakai yaitu Analisis Sidik Jari.

Analisis Sidik Jari pada dasarnya merupakan salah satu metode yang bisa digunakan untuk menganalisis bakat, kecerdasan, gaya belajar, hingga karakter seseorang hanya dengan melakukan scanning sidik jari. 

Hal ini mengingat bahwa sidik jari setiap manusia itu berbeda - beda dan bersifat permanen, sehingga sidik jari bisa menjadi "jembatan" untuk memetakan fungsi otak dan mengungkap segala "rahasia" kepribadian seseorang. 

Itulah sebabnya dalam konteks ini Analisa Sidik Jari bisa dikatakan sebuah metode untuk mengetahui potensi genetik seseorang yang mencangkup kecerdasan majemuk, gaya belajar, gaya bekerja, karakter bawaan dan lain sebagainya. 

Apabila seseorang bisa mengenali potensi dirinya, berarti ia akan bisa lebih meningkatkan potensi untuk mencapai kesuksesan hidupnya serta memahami diri dan orang lain secara lebih baik. 

Kemudian seiring dengan perkembangan riset, maka saat ini sidik jari juga dapat digunakan untuk mengetahui atau memetakan jenis kecerdasan/bakat seseorang, gaya belajar hingga karakter bawaan.

Itulah sebabnya tes dalam Analisa Sidik Jari dikenal juga dengan istilah "Dermatoglyphics Multiple Intelligence Test (DMIT)". 

Analisa sidik jari bisa digunakan untuk menganalisa bakat yang dimiliki seseorang baik anak-anak maupun orang dewasa, sehingga ia bisa mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya untuk meraih kesuksesan hidup secara lebih efektif dan efisien karena dapat mengetahui gaya belajar, kepribadian yang melekat dan profesi yang dianggap cocok.

Metode analisa sidik jari yang menggunakan data biomedik ini  mampu menginterpretasikan distribusi potensi dalam diri seseorang, akan tetapi dalam pencapaiannya  tergantung pada kecerdasan dan usaha atau ikhtiarnya. 

Namun disamping itu, dalam pengembangan metode pengukuran dan interpretasi penilaiannya juga terkait dengan perkembangan ilmu saraf dan ilmu psikologi, sehingga metode analisa sidik jari bersifat dinamis (updating). 

Para ahli dermatoglyphics dan kalangan neuro-anatomi (kedokteran-anatomi tubuh) telah menemukan fakta penelitian bahwa pola sidik jari bersifat genetis, dan telah muncul ketika janin dalam kandungan, mulai dari usia 13 minggu dan lengkap pada usia 24 minggu. 

Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari, yang dikenal sebagai garis epidermal, ternyata memiliki keterkaitan dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak (Nerve Growth Factor atau NGF) yang sama dengan faktor garis epidermal (Epidermal Growth Factor atau EGF). 

Bukti ilmiah juga menyebutkan adanya korelasi lahiriah antara sidik jari dengan kualitas, bakat, dan gaya belajar seseorang.

Di dalam implementasinya, tes analisa sidik jari bisa berbasis pada konsep "Multiple Intelligence", menggunakan dikotomi "otak kiri vs otak kanan", interkorelasi lobus otak yang berbeda-beda, atau metode lainnya. 

Riset-riset terkait hal ini tampaknya akan menjadi subjek riset yang semakin menarik karena setiap orang pada akhirnya ingin bisa hidup sukses yang sesuai dengan bakatnya sehingga bisa membuatnya lebih bahagia di kemudian hari.

Penulis: Dede Farhan Aulawi

Komentar Anda

Terima kasih telah berkunjung ke PPWInews.com. Silahkan berkomentar dengan sopan. Terimakasih.


Berita Terkini